IRI

Iri adalah sifat manusiawi, tidak ada yang salah dengan iri, tergantung konteks irinya. But just remember, we don't really know about others background.

🗓22 April 2020☕️7 min read

Overview

Sebelum masuk ke pandangan gw terhadap IRI, gw pingin bercerita dan bersenda gurau dulu sedikit. Jadi gini, gw yakin disini pada menggunakan Instagram, dan mungkin ada beberapa yang menggunakan Twitter juga. Ya, kedua sosmed itu gw berani bilang adalah tempat show-off atau pamer.

Kalo dari prespektif yang gw lihat, ada beberapa behavior dan culture klasik terkait Instagram VS Twitter. Instagram tempatnya pamer kekayaan, pekerjaan, travelling, dan hal woah lainnya. But, Twitter malah sebaliknya, pamer kemiskinan, pengangguran, kemalasan, dan hal receh lainnya. Berlawanan banget emang.

So, terbentuklah perbedaan karakteristik dari pengguna dua sosmed tersebut, yaitu:

Pengguna instagram lebih serius, baperan dan songong. Sedangkan pengguna twitter lebih receh, gabut dan ga jelas. Hahaha, section ini for fun aja ya.

Itu adalah awal mula yang membuat gw memperhatikan behavior pengguna sosmed, yaitu beragam. Dan ketika waktu itulah gw berfikir, ga ada behavior bagus yang didapat ketika kita menggunakan sosmed, tapi kok bisa jadi kebiasaan main sosmed juga ya? Tiap hari juga pasti ada waktu buka sosmed. Well, mari kita coba mulai..


Background

Gw dulu awalnya tipe orang yang gampang iri, tapi untungnya gw sadar diri. Maka dari itu gw dari dulu *memang (sampe sekarang juga) ga pernah ngikutin akun-akun artis di instagram, demi ketenangan dalam kehidupan gw. Alih-alih khawatir mencari cara bagaimana seperti mereka, lebih baik bekerja keras agar bisa menjadi pribadi yang kita inginkan.

Gw sadar instagram bukanlah tempat gw nyari duit, walaupun banyak orang yang bisa dapet duit dari sana. Gw menggunakan instagram just for fun. Tempat membangun portfolio gw pun sebenarnya bukan dari instagram. But, waktu itu gw berfikir kalo gw bisa menghabiskan waktu lama-lama untuk main instagram dan mendapatkan rasa iri ketika melihat orang pamer apa yang dimilikinya, kenapa gw ga bisa melakukan hal yang sama ya? Tapi apa yang mau gw pamerin coba.

But, satu hal yang mau gw kasih tau. Sebenernya motivasi gw membuat website ini dan mulai menulis blog pun salah satunya karena faktor IRI tersebut.

Woah gila, website si A keren, portfolionya banyak lagi..

Anjir, mantap banget si B, bisa menyalurkan pengetahuannya lewat blog..

Wah dia pinter buat dokumentasi, tulisannya keren lagi..

Anjir github statsnya ijo semua, contribute apa aja tuh..

Iri dah liat si C, orang ini bikin project terus..

Dari situlah muncul keinginan gw untuk seperti mereka, tapi gw harus bisa membatasi diri, kira-kira mana yg bisa gw lakuin dan mana yg ga bisa gw lakuin. Karena kalo gw pingin seperti mereka sedangkan gw ga bisa membatasi diri, yang susah gw sendiri; Susah untuk menjadi orang lain.

Karena awalnya gw selalu iri dan ilfeel melihat feed-feed orang disosmed itu-itu aja. Kali ini ada satu titik yang berbeda, waktu itu ada platform yang ketika melihat feed-feednya, gw malah termotivasi untuk menjadi seperti mereka juga, serta mengubah sudut pandang gw mengenai kata pamer tersebut. Apa sosmednya? Yaitu GitHub dan Linkedin.

Yap, kedua sosmed ini cukup berbeda. Mungkin gw bisa menyebutnya tempat pamer juga. Tapi yang dipamerin adalah kontribusi, karya, proyek dan produktifitas. Dan feel iri yang dihasilkan pun terasa berbeda.

Ketika gw liat feed-feed di github atau linkedin: "wah ni orang pada keren-keren bener". Gw pengen berada dibarisan mereka ah. Dan di sana itu, sekaligus gw bisa membangun portfolio pribadi juga.

Ketika ingin mencari inspirasi pun, ada kolom Explore dan Trending. My first impression looks like:

I should focus on, this! Here's my passion. Stop worrying about what others share, instead "talk is cheap, show me your code!" - Linus Torvalds.

Gw jadi iri sama orang-orang yang banyak berkontribusi, khususnya yang lewat di feed/timeline gw. Gw ingin berada dibarisan mereka juga, syukur-syukur bisa membuat orang iri juga, lalu tergerak untuk mengikuti keirian di jalur ini, hahaha.

Tapi, ada beberapa hal yang selalu menjadi pertanyaan gw ketika melihat kontribusi dan proyek-proyek yang mereka buat.

Dia belajar dari kapan sih, Kok bisa produktif banget gitu..

Berapa lama sih dia bikinnya..

Dia belajarnya kayak mana sih, bisa dapet pengetahuan sebanyak itu..

Apa dia keluar duit juga ya buat belajar, berapa sih..

Apakah sebanding ya sama gw..


Takeaway

Nah, semenjak itu lalu muncul lah inisiatif gw untuk membangun dan menulis blog di website ini. Bukan disini aja, di instagram pun gw mencoba untuk membentuk lingkungan dan berinteraksi di akun gw dengan cara mem-following mereka yang aktif dan produktif di dunia perkodean, dengan begitu gw dapet insight dan inspirasi baru terhadap karya-karya yang mereka share. Ga lupa gw juga mempamerkan hasil karya dan aktifitas gw. Serta membagikan pengetahuan dan sedikit lelucon tentang dunia perkodingan ke followers gw dengan tujuan untuk melampiaskan kepuasan diri sendiri serta memberi insight baru juga terhadap mereka yang melihat.

Dan benar aja, sekarang akun instagram gw lumayan aktif dengan interaksi sama mereka yang ingin sharing sesuatu ataupun bertanya sesuatu, gw seneng membantu mereka dengan jawaban yang gw tahu, dan jg gw dapet insight dari mereka yg lebih berpengalaman ketika gw share suatu problem. Jadi intinya saling sharing gitu. Karena apa bisa gitu? Ya karena gw membentuk behavior yang berbeda pada akun instagram gw dengan bidang yang gw sendiri suka.

Tapi semenjak itu gw sadar, sebenernya yang salah itu bukan mereka yang pamer, tapi gw yang terlalu insecure terhadap feed-feed mereka di sosmed. Dan gw mulai mengubah sudut pandang gw sendiri terhadap kata pamer tersebut. Sekarang pandangan gw terhadap sosmed adalah tempat orang mengekspresi & mengapresiasi kan bagaimana pencapaian di kehidupannya, ya walaupun sebagian ada untuk lucu-lucuan absurd juga, wkwkwk.

Ya, berarti ada kebanggaan pada diri mereka setelah mencapai itu, makanya pamer. Ya, karena sosial media juga dibikinnya memang untuk itu, bahasa halusnya mengekspresikan diri, tau sendiri kan kolom form status facebook atau twitter sendiri placeholdernya: apa yang sedang anda pikirkan?. Pernah liat reels Rico Huang tentang sosmed juga disini, silahkan lihat sendiri kalo sempet.

Dan sebenarnya tugas kita yang melihat adalah mengapresiasi, atau paling engga diam, bukan malah julid. Ya, gw tau rasa iri itu pasti ada, But c'mon, let them live. Setidaknya behavior kita terhadap mereka berubah, dari peng-julid menjadi peng-apresiasi.

Daripada keirian ini mengotori pikiran kita terhadap mereka, mending kita jadikan keirian ini untuk mengapresiasi mereka, ya walaupun dalem hati juga. Atau yang lebih bagus lagi, menjadikan keirian ini sebagai motivasi! Belajar mengapresiasi orang, kita juga akan diapresiasi orang.

Dan pada akhirnya, sekarang pandangan gw tentang pamer sudah cukup berbeda dari yang dulu. Because people changes juga ya kan, haha. Ya, sekarang ketika gw melihat ada orang yang mengekspresikan dirinya, tentang kekayaan mereka, kesuksesan mereka, dsb. Selalu yang ada dipikiran gw: "Gw gatau berapa waktu yang mereka habiskan, berapa duit yang mereka keluarkan dan seberapa perjuangan yang mereka korbankan untuk mencapai hal itu."

We don't really know about others background. So, let them live! As long as they don't break others down, we must apreciate that, or at least we don't disturb them


Dan sekarang, gw ada target untuk kontribusi tiap weekend, entah itu buat gw pribadi ataupun komunitas. Tapi kadang tersendat karena ga sempat dan mood-mood an juga wkwkwkw. Biar ngerasa Work-life Balance gitu, dan karena gue belum dapet hobi selain didepan layar, jadi gue nikmati dulu hobi ini. Oke, mari kita mulai. Bikin apa, ya? Fix apa, ya? Kontribusi apa, ya? Jawabannya ada di diri kita sendiri. Tidak dapat cari inspirasi? Cari guee, wkwkwkw.

Ya cari insight-lah, di sosmed yang gw kek gw sebutin tadi misalnya.

🗓 Diperbarui: 8 Juni 2022