POV tentang Work Life Balance yang berbeda

Work Life Balance selalu diartikan memisahkan antara kehidupan pekerjaan & pribadi agar seimbang dan tidak saling mengganggu. Tapi apakah harus seperti itu? Lalu, bagaimana kita bisa menciptakan Work Life Balance dengan cara yang berbeda?”

πŸ—“06 Maret 2022β€’β˜•οΈ5 min read

Work-Life Balance adalah tentang menyeimbangkan antara kehidupan pekerjaan dan kehidupan pribadi. Benar, pada dasarnya istilah Work-Life Balance seperti itu, dari kata-kata aja sudah bisa diartikan Balance, yang artinya Keseimbangan.

Di tulisan yang pendek ini, gue hanya berbagi sedikit sudut pandang gue pribadi tentang Work-Life Balance. Jadi, yang setuju bisa diambil pointnya, kalo ga setuju no problem. Karena setiap orang pasti punya sudut pandang pribadi. Okay? πŸ™†πŸ»

Ah, Work-Life Balance.. sebuah istilah yang lagi hits dibahas pada saat-saat ini. Ya, karena sebagian dari mereka ada yang kebagian merasakannya. Namun, sebagian juga ada yang belum merasakannya karena harus bekerja secara terpaksa diluar sana. Dan bahkan ada juga yang tidak beruntung untuk mendapatkan pekerjaan, bahkan ada yang kehilangan pekerjaan.


Faktanya, Work-Life Balance selalu diartikan atau dikaitkan dengan memisahkan antara kehidupan pekerjaan dan kehidupan pribadi agar seimbang dan tidak saling mengganggu. Tapi apakah untuk mencapai keseimbangan harus seperti itu? Ga juga.

Apakah dengan memisahkahkan kehidupan pekerjaan & kehidupan pribadi agar tidak saling mengganggu dapat menjamin kita bisa seimbang bahagia menjalani hidup? Menurut gw belum tentu juga.

Percuma jika kita sudah bagus-bagus sudah dapat memisahkan antara kehidupan pekerjaan dan kehidupan pribadi agar seimbang dan tidak saling mengganggu, tapi saat kita menjalankan kehidupan pekerjaan tersebut, kita merasa terpaksa dan tidak bahagia. Alias, kita hanya bahagia ketika menjalankan kehidupan pribadi doang, namun stress/tidak bahagia ketika menjalankan kehidupan pekerjaan. Apakah seperti itu bisa dikatakan seimbang? kok bahagianya ga seimbang?

Padahal, tujuan untuk mencapai Work-Life Balance itu sendiri supaya bahagia kan?

Kalo hal diatas sampai terjadi di kita, ujung-ujungnya kita menjadi orang yang mencari kebahagian dengan cara self-reward mulu di kehidupan pribadi. Statement kasarnya adalah: kerja sampai stress, dapet duit dari kerjaan buat ngilangin stress. Dan berputar-putar disitu terus setiap bulan. Ironi bukan?

Ya, memang stress tidak bisa dihindari dan pasti bisa terjadi di siapa saja. Namun, setidaknya kita bisa sedikit mengurangi rasio stress tersebut, agar tidak melulu stress dan bisa bahagia ketika menjalani kehidupan pekerjaan.


Pada sudut pandang disini, Work-Life Balance sebenarnya bisa tercipta dengan mindset dan perlakuan diri kita sendiri, dapatkah kita menjadi orang yang curious terhadap kerjaan, menciptakan linkungan pekerjaan yang baik, memilih dan bergaul dengan rekan kerja yang supportive, dan memanage waktu antara kerja dan menjalani kehidupan pribadi & keluarga. Ingat, memanage bukan berarti memisahkan.

Bahkan gue pernah berbincang sama temen gue yang CTO di kantor, tentang masalah menggunakan waktu ketika weekend. Saat itu gue nanya ke dia, bagaimana cara menghabiskan waktu weekend versi dia, dan dia bilang, dengan mengerjakan side hustle (pekerjaan sampingan). Alasannya karena apa? Dia bilang karena Work-Life balance versi dia pribadi adalah dengan bekerja! Iya, dia seperti menjadikan kerjaan tersebut menjadi hobi atau kesenangan pribadinya. Gue sendiri langsung tertegun.

Ketika dipikir-pikir, benar juga. Jika kita mencintai pekerjaan kita atau hobi kita adalah pekerjaan kita sendiri, kita akan merasa seperti tidak bekerja. Gue selalu suka dengan quote ini:

"Do a work what you love, and you will never work a day in your life." - Marc Antony


Jadi kembali lagi ke topik POV Work-Life Balance kita tadi. Work-Life balance sebenarnya dapat tercipta atas mindset & perlakuan diri kita sendiri, dan itu setiap individu pun berbeda-beda. Kita harus mencari kunci untuk menciptakan Work-Life balance versi kita sendiri.

Menurut gue ada satu hal yang sering dilupakan orang-orang untuk mencapai Work-Life balance tersebut, yaitu dengan menemui titik Ikigai, titik dimana kita bertemu dengan 4 elemen yang bisa membuat hidup kita lebih seimbang, bahagia, dan bahkan bermakna untuk orang sekitar. Gue ga akan bahas Ikigai lebih lengkap disini, tapi gue akan meeringkas 4 elemen tersebut secara singkat, antara lain:

1. Passion (What you love).

Passion dapat diartikan sebagai sesuatu yang kita senangi. Sesuatu yang membuat kita bergairah untuk melakukan hal tersebut dan merasa bahagia apabila melakukan hal tersebut, misalnya hobi ataupun kesenangan pribadi.

2. Mission (What world need).

Mission adalah hal-hal yang dibutuhkan oleh lingkungan sekitar kita. Mungkin tidak sesuai dengan passion kita tetapi tidak menutup kemungkinan kita dapat berkontribusi dengan hal-hal kecil yang dapat kita lakukan untuk lingkungan sekitar kita.

3. Vocation (What you can get paid for).

Tidak dipungkiri demi bertahan hidup tentunya kita harus mempunyai penghasilan. Vocation adalah sesuatu yang dapat kita lakukan dan menghasilkan suatu pendapatan bagi kita.

4. Profession (What you are good at).

Profession adalah sesuatu yang kita merasa ahli di bidangnya. Keahlian ini bisa kita dapatkan dengan menempuh pendidikan atau mengikuti kursus pelatihan.

Diagram Ikigai

Yap, Ikigai. Menurut gue Ikigai adalah salah satu pintu penting untuk membuka cahaya Work-Life Balance. Dengan membuka Ikigai ini, kita akan menjadi lebih tau apa itu Work-Life balance dan alasan kita untuk menjalankan hari-hari di hidup. Apakah kamu sendiri sudah merasa menemukan Ikigai dalam hidupmu? Atau sampai sekarang masih mencari kuncinya untuk membuka pintu Ikigai tersebut?

Jadi, jika pada lazimnya kata orang Work-Life Balance itu memisahkan kehidupan pekerjaan dan kehidupan pribadi agar tidak saling "menganggu". Sudut pandang Work-Life Balance yang berbeda di tulisan ini adalah, bagaimana kita membuat diri kita sendiri dapat "mencintai" kehidupan pekerjaan tersebut, dan tidak menjadikan kehidupan pekerjaan tersebut sebagai sesuatu yang dapat "mengganggu" kehidupan pribadi kita, makanya gue membawa Ikigai di tulisan ini.

Dengan cara mengerjakan apa yang kita cintai, dan bisa dibayar karena hal itu, kita sebenarnya sudah mencapai Work-Life balance itu sendiri. Jika kita tidak bisa seperti itu, cobalah untuk mencari kegiatan apa yang bisa kita cintai dan dibayar. Jika tidak bisa juga, cobalah mencintai pekerjaan yang kita miliki sekarang.


Mungkin itu saja yang bisa gue sampaikan di tulisan ini, semoga dengan tulisan ini, kamu pembaca bisa menemukan Work-Life Balance versimu sendiri, dan semoga selalu bahagia dalam menjalani hidup. Seperti biasa, terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca 😁.